Kamis, 13 Januari 2011

TERAPI RESPON CEPAT


A.    PENGERTIAN
Terapi respon cepat adalah terapi yang dijalankan berdasarkan cara energy mengalir melalui tubuh. Kunci mengapa psikologi energy berhasil baik adalah kenyataan bahwa tubuh kita ada listrik. Kita merupakan bagian dari keterkaitan antara kekuatan polarisasi, electromagnet, gudang pengetahuan leluhur dan kekuatan yng saling tumpang tindih antara rangkaian aktivitas dengan kesadaran. Polarisasi adalah kunci untuk menyeimbangkan kekuatan-kekuatan negative dan positif. Polarisasi adalah dasar dari semua benda hidup. Bila terjadi reaksi balik polarisasi dalam tubuh, kita melakukan yang terbaik dari apa yang kita inginkan. Dengan terapi respon cepat, kita dapat membalikkan proses ini dan dengan demikian  menghilangkan energy yang terhambat dalam tubuh dan membebaskan energy tersebut.

B.     LATAR BELAKANG
Terapi respon cepat lahir dari pengembangan Kinesiologi (cara system saraf mempengaruhi otot) Terapan , terapi meridian, Tingkat SUDS (Subjektif Unit Of Distress Scale atau unit subjektif skala stress emosional Negatif), terapi kognitif (Pikiran), Pemograman Neurolinguistik (kerja panca indra mempengaruhi informasi pada otak) dan terapi medan pikiran.

Eksperimen Terapi Respon Cepat Yang Pernah dilakukan:
*      Pada denyut Jantung dan komposisi darah terjadi perubahan kearah normal: Bulan juli pada tahun 1997 Dr. Fuller Royal Direktur Klinik Kesehatan Las Vegas . Dilakukan pula oleh Dr. Fuller dan Dr. Calahan. Dimana system saraf otonom tidak memberikan respon terhadap placebo sehingga efektivitas penanganan dapat diuji dengan tepat.
*      Pada Tahun 1993 Oleh Dr. James Figley dan Joyce di Florida State University Carbonell hasilnya menunjukkan hasil yang gemilang pada penderita Post Traumatic Sindrom.
Terapi Respon Cepat dapat dilakukan tanpa terapis dan tanpa harus mengetahui perinciannya, mengingat tidak ada hambatan budaya, bahasa, dan usia dalam penanganannya. Tidak perlu percaya pada efektivitas penanganannya, tidak ada efek placebo sehingga terapi ini dapat diperagakan dalam forum umum.

C.    TUJUAN
Tampaknya otak adalah sebagian kecil dari susunan puzzle, pikiran tidak terdapat didalam otak melainkan meliputi tubuh yang dapat mengalami gangguan yang merupakan pemicu stress emosional negative, dilakukannya terapi respon cepat bertujuan menyatukan pikiran dan respon tubuh yang mengubah hubungan negative tersebut.

D.    LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN 
  Tahap Persiapan:
   ü  Alat Tulis (Selembar kertas dan Pulpen/ pensil)
   ü  Siapkan 1 baris lagu favorit.
        Tahap pelaksanaan:
1.    Pilihlah satu jenis masalah yang ingin anda hilangkan.
2.  Masuklah ke dalam medan pikiran. Pikirkanlah masalah tersebut. Dalam pikiran anda, perhatikan apa yang anda katakan pada diri anda tentang hal tersebut, rasakan emosi yang muncul. Bila ada bau atau rasa sertakan.
3.    Bila masalah itu seakan-akan nyata dan terjadi pada saat itu, ukurlah intensitas emosi anda pada skala 10 poin SUDS dimana:  skala1: saya tidak terganggu, skala2: tenang dan rileks, skala3: Agak kurang nyaman tetapi dapat dikuasai, skala4: Tampak, skala5: saya tidak bisa tahan, skala6: tidak nyaman, skala7: parah, skala8: sangat parah, skala9: hampir tak tertahankan, skala10: rasa tidak nyaman yang terburuk. Tulislah skala SUDS anda.
4.    Lakukan putaran mata
5.   Lakukan penekanan pada lekukan antara jari manis dan jari kelingking. Ulangi langkah 4 dan 5.
6.   Akhiri dengan putaran mata
7.   Ukurlah Tingkat SUDS untuk kedua kalinya dan apabila telah turun 1-2 poin teruskan dengan langkah no.10
8.  Bila SUDS diatas 2 tekan titik tengah pinggir tangan antara buku jari kelingking dengan pergelangan. Lalu kembali ke langkah 1.
9.   Bila SUDS tidak turun pada skala  setelah 2 kali pengulangan. Tekan bawah hidung bukan tangan lagi tepatnya antara hidung dan bibir atas.
10. Lakukanlah:
·       Bukalah mata
·       Pejamkan mata
·       Gerakan mata kearah kanan bawah
·       Gerakan mata kearah kiri bawah
·       Putarlah mata satu arah
·       Putarlah mata berlawanan arah
·       Bersenandung 1 baris lagu keras-keras
·       Hitunglah sampai 5
·       Bersenandung 1 baris lagu

Resistensi Antibiotik (Hot Issue tahun 2010-2011)

Perluasan Penyakit Menular Berkembang Cepat

Peluasan penyakit menular terus berkembang dengan kecepatan yang luar biasa dan produktif begitu jg mikroba yang kita berantas. Tujuan dari kajian ini adalah untuk menyoroti isu-isu yang paling penting di lapangan, termasuk kabar baik dan berita buruk. Kajian ini akan mencakup 10 topik, diakui dengan beberapa penulis.
Resistensi Antibiotik

Antibiotik dapat dikatakan mengalami kemajuan yang paling penting dalam sejarah obat modern. Diperkirakan bahwa kematian di Amerika Serikat mengalami penurunan sebesar 220 per 100.000 dengan pengenalan sulfonamid dan penisilin di era antibiotik awal ini. Jauh melebihi keuntungan yang dicapai dengan muka medis lainnya di abad terakhir. Ancaman utama sekarang kita hadapi adalah meningkatnya resistensi terhadap antibiotik, yang membahayakan banyak kemajuan ini. Harus diakui bahwa evolusi resistensi bakteri tidak bisa dihindari,. Tetapi tingkat kerusakan yang sangat dipromosikan oleh penggunaan antibiotik . Masalah yang hadapi adalah pertumbuhan dan perlawanan mikroba sebagai akibat dari penggunaan dan penyalahgunaan obat-obatan, yang memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan jelas lebih banyak perlawanan.

Di masa lalu, resistensi antibiotik merupakan tantangan yang biasanya dipenuhi oleh pengembangan antibiotik baru, tetapi masalah yang lebih baru adalah industri farmasi hampir semua tertarik memproduksi obat baru. Jadi, 1983-2010, US Food and Drug Administration (FDA) persetujuan antibiotik baru terus menurun, dari 4 per tahun di awal 1980-an menjadi kurang dari 1 antibiotik per tahun sekarang.

Mungkin yang lebih penting dari penurunan obat-obatan untuk melawan bakteri adalah resistensi bakteri dan efek klinisnya.  Infection Disease Society of America (IDSA) diakui masalah ini pada tahun 2004 dengan penciptaan Antibiotic Availability Task Force (AATF). Organisasi ini merangkum isu-isu dalam dokumen relevan, dimulai dengan "Bad Bugs, No Narkoba," review dari wawancara dengan para eksekutif dari perusahaan farmasi yang secara historis merupakan produsen terbesar antibiotik. alasan mereka untuk kembali melakukan pengembangan antibiotik merupakan bisnis yang baik:

    * Antibiotik adalah obat jangka pendek yang biasanya dikonsumsi selama 1-2 minggu, tapi agen pada kardiovaskular, rheumatologic, dan neurologi, dikonsumsi oleh pasien selama beberapa dekade.
    * Investasi yang dibutuhkan untuk "membawa obat untuk kepasaran" diperkirakan hampir $ 1 miliar, kemungkinan "balik modal" untuk antibiotik hampir nihil.
    * Kami juga mendengar: "Jika mengembangkan obat untuk bakteri resisten, kalian memberitahu dokter untuk cadangan mereka untuk kondisi yang relatif jarang terjadi."
    * Perubahan lingkungan  yang tak terduga dan sangat beresiko di daerah klinis.

Patogen yang memprihatinkan. Sementara itu, organisme yang menjadi perhatian terus tumbuh dalam jumlah. yakni bakteri utama yang didefinisikan sebagai "ESKAPE" mikroba dalam referensi untuk Enterobacter, Staphylococcus aureus, Klebsiella, Acinetobacter, Pseudomonas aeruginosa, dan Enterococcus. Sepuluh tahun yang lalu, kita menyaksikan penyebaran global strain baru aureus S yang berisi Leukocidin Panton-Valentine, yang disebut di sini sebagai "strain 300 USA." Hal ini mendominasi perhatian untuk perlawanan dengan "bug yang buruk," namun perhatian yang lebih besar lagi baru-baru ini telah dinyatakan tentang basil gram negatif, terutama yang memproduksi carbapenemases. Ini termasuk  Carbapenemase K pneumoniae -memproduksi Enterobacteriaceae yang muncul di Amerika Serikat dimulai pada tahun 2000-an. Namun, yang paling mengkhawatirkan dari semua telah terjadi baru-baru ini  New Delhi-Metallo beta-laktamase (nama kota nya asal) yang pertama kali terinfeksi pasien yang dirawat di New Delhi dan kemudian menyebar, pertama dengan perjalanan ke Inggris dan kemudian secara global. Organisme ini tahan terhadap hampir semua antibiotik yang ada saat ini  kecuali untuk colistin dan tigecycline.

Yang menjadi perhatian Badan kesehatan di Eropa baru-baru ini menghasilkan monografi dengan tinjauan luar biasa komprehensif saat ini yakni pengembangan obat baru untuk bakteri resisten. Mereka menunjukkan bahwa kelas baru terakhir obat yang aktif terhadap gram-. bakteri negatif kembali hampir 40 tahun! Mereka juga berusaha ketat untuk mengidentifikasi kelas baru untuk bakteri gram negatif dalam pembangunan, termasuk kajian mendalam pada obat dalam 2 fase percobaan atau lebih. Tidak ada Historis yang diperlukan, kurang lebih 8 tahun dari penemuan obat dengan persetujuan FDA menunjukkan bahwa, bahkan jika sekarang bekerja agresif dan berhasil, ada kemungkinan kecil ditemukan obat baru sebelum 2015.

Perhatian umum untuk krisis resistensi antibiotik dalam menghadapi jaringan pipa yang relatif kering adalah isu prioritas yang tiba-tiba ditarik. Pada tanggal 4 November 2009, Presiden Obama dan Perdana Menteri Swedia Fredrik Reinfeldt, yang mewakili Uni Eropa, membentuk Satuan Tugas transatlantik Antibiotik Resistance (TATFAR) untuk memberikan serangan rekayasa terhadap masalah ini oleh Amerika Serikat dan Eropa. Dua lainnya permintaan kongres yang relevan telah diusulkan, termasuk RUU Senat 2313: Strategi Untuk Resistensi antibiotik Alamat (STAAR Act), dan tagihan House 6331, sebagian besar dirancang untuk memberikan insentif bagi perusahaan farmasi untuk mengembangkan antibiotik. Selain itu, Institut Nasional Alergi dan Penyakit Infeksi dari Institut Kesehatan Nasional mengumumkan rencana untuk membangun jaringan pusat-pusat kolaborasi akademik untuk menguji antibiotik baru dan isu-isu yang relevan dengan resistensi antibiotik.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengumumkan "jadi pintar tentang program Antibiotik " untuk memberikan bimbingan, khususnya melalui pelayanan antibiotik, dalam meningkatkan penggunaan  obat yang kita miliki saat ini. Perlu dicatat bahwa Perancis, yang memiliki tingkat tertinggi atas penggunaan antibiotik di Uni Eropa, membahas masalah yang dirasakan penyalahgunaan antibiotik dengan kampanye mahal dan sangat ambisius diarahkan pada kedua konsumen dan dokter. Tujuan 5 tahun adalah untuk mengurangi kemungkinan resep antibiotik untuk infeksi saluran pernapasan virus sebesar 25%. Sebuah laporan baru-baru ini menunjukkan bahwa tujuan ini dicapai.

Untuk Amerika Serikat, resistensi antibiotik bertanggung jawab untuk hampir 100.000 kematian yang disebabkan infeksi oleh rumah sakit yang didapat per tahun menelan biaya tahunan diperkirakan $ 23000000000. Hal ini jelas menarik perhatian Centers for Medicare & Medicaid Services, dengan harapan bahwa penyalahgunaan antibiotik akan menyebabkan pelaporan publik dan denda keuangan.

Kesimpulannya adalah bahwa resistensi kini mencapai tahap krisis, sebagian besar karena kurangnya agen antimikroba baru untuk mempertahankan efektivitas yang telah dinikmati selama lebih dari 50 tahun. Kabar baiknya adalah bahwa konsensus telah tercapai bahwa ini merupakan masalah penting, meskipun sudah terlambat disadari. Dokter harus menyadari masalah ini dan setuju untuk membantu dalam upaya untuk mempertahankan kegiatan saat ini obat yang tersedia melalui konservasi antibiotik yang konsisten dengan praktek yang baik.

Rabu, 12 Januari 2011

PRINSIP PEMBELAJARAN KETERLIBATAN LANGSUNG

Belajar adalah proses perubahan perilaku atau kecakapan manusia berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannyashingga mereka mampu berinteraksi antara individu dan individu dengan lingkungannya. Maka seseorang yang telah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan perilaku dalam aspek pengetahuan sikap dan keterampilan. Adapun prinsip-prinsip dalam pembelajaran  yang perlu diperhatikan pengajar dan siswa yakni perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual.
Prinsip adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum maupun individual yang dijadikan oleh seseorang/ kelompok sebagai sebuah pedoman untuk berpikir atau bertindak. Sebuah prinsip merupakan roh dari sebuah perkembangan ataupun perubahan, dan merupakan akumulasi dari pengalaman ataupun pemaknaan oleh sebuah obyek atau subyek tertentu. Prinsip-prinsip pembelajaran merupakan salah satu komponen pokok dari kegiatan pembelajaran. Seperti sebuah sistem pada umumnya, bila ada salah satu komponennya yang tidak berfungsi dengan baik maka keseluruhan kerja sistem pun akan terganggu. Demikian juga pada kegiatan pembelajaran, bila dalam melakukan suatu kegiatan pembelajaran prinsip-prinsip pembelajaran diabaikan maka sudah jelas pembelajaran tersebut tidak akan maksimal hasilnya.
Menurut Edgar Dale, dalam penggolongan pengalaman belajar yang dituangkan dalam kerucut pengalamannya, mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar dari pengalaman langsung. Maka peserta didik dapat mempelajari sendiri apa yang dijelaskan pengajar dengan praktek/terlibat langsung dalam proses belajar sehingga peserta didik akan memiliki pengalaman. Dan perlu diingat kembali Hal apapun yang dipelajari siswa, maka ia harus mempelajari nya sendiri. Tidak ada seorang pun dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya (Davies, 1972). Dengan keterlibatan secara langsung, logisnya siswa akan memiliki pengalaman.
Berbicara tentang media dan pengalaman-pengalaman yang dibangunnya, kita dapat berpedoman pada Kerucut Pengalaman Edgar Dale (Cone of Experience). Pada gambar di bawah ini juga diperlihatkan keterkaitan dengan konsep Bruner (enactive, iconic, and symbolic learning).



"The cone of Experience" from Audio-Visual Methods in Teaching, 1st Edition, by Edgar Dale, 1969. (Digambar ulang oleh saya untuk mendapatkan ketajaman gambar)
Dapat kita amati, ada tahap-tahap bentuk penyajian pesan melalui media untuk mendapatkan pengalaman belajar senyata mungkin. Pada Kerucut Pengalaman Dale, kita memulai pemelajar (orang yang melakukan kegiatan belajar) sebagai partisipan dalam pengalaman aktual, lalu beranjak ke pemelajar sebagai pengamat dari kejadian aktual, lalu ke pemelajar sebagai pengamat dari sebuah hal/kejadian melalui medium, dan akhirnya ke pemelajar yang mengamati simbol-simbol yang merepresentasikan sebuah hal/kejadian. Dan itulah yang menurut saya paling menantang, mengembangkan sebuah media pembelajaran yang dapat digunakan para pemelajar untuk mengamati sebuah hal/kejadian.
Dale berkeyakinan bahwa simbol dan gagasan yang abstrak dapat lebih mudah dipahami dan diserap manakala diberikan dalam bentuk pengalaman yang kongkrit. Kerucut Edgar Dale ini menyatukan teori pendidikan John Dewey dengan gagasan-gagasan dalam bidang psikologi yang tengah populer pada masa itu. Kerucut pengalaman merupakan upaya awal untuk memberikan alasan tentang kaitan teori belajar dengan komunikasi audio visual (Dale, 1946)
Secara umum, semakin kita menapaki ke atas kerucut Pengalaman Dale, akan mendapati media yang lebih abstrak, dan lebih banyak informasi yang dapat di padatkan ke dalam periode waktu yang singkat. Memakan waktu yang lebih banyak jika pemelajar melibatkan diri ke dalam pengalaman langsung yang nyata, pengalaman buatan, atau pengalaman yang didramatisir jika dibandingkan dengan penangkapan informasi dalam sebiah tape video, rekaman audio, serangkaian simbol visual (gambar), atau serangkaian simbol verbal.
Seorang perawat memerlukan waktu untuk mengimplementasikan praktek keperawatan secara langsung untuk mendapatkan keterampilan yang tidak akan diterima dalam pelajaran teori dikelas. Perawat akan langsung berhadapan dengan pasien beserta resiko-resiko dan hambatan yang akan diperoleh baik itu berhasil ataupun tidak namun keterlibatan  langsung itu akan mudah diingatdan tertanam lebih dalam dipikiran. Hal ini juga sesuai dengan teori brunner yakni learning by doing.
 Belajar secara langsung dalam hal ini tidak sekedar mengamati secara langsung melainkan harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Belajar harus dilakukan siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok dengan cara memecahkan masalah (problem solving). Guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator. Keterlibatan siswa di dalam belajar tidak hanya keterlibatan fisik semata, tetapi juga keterlibatan emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan.
Kegiatan pembelajaran di kelas-kelas sekolah, kampus, hingga pascasarjana amat rentan dihinggapi kebosanan yang disertai wajah-wajah lesu mengantuk para pesertanya. Tapi kalau diamati, pelatihan, seminar, workshop, dan yang lainnya terlihat begitu laris manis disaat tema dan materi kegiatannya merupakan hal-hal baru dan praktis. Fenomena tersebut memberikan sebuah makna bahwa bukan sekedar wawasan atau pengetahuan yang dibutuhkan saat ini, tapi juga sejumlah hal yang dikenal dengan kata pengalaman langsung
Ada beberapa teori yang mendukung asas keterlibatan langsung/Berpengalaman antara lain :
  1. John Dewey (Learning by doing)
John Dewey menyebutkan Belajar dengan berbuat (learning by doing) adalah merupakan cara yang lebih efektif. Dengan kata lain, dalam mempelajari sesuatu itu tidak hanya mendengar dan membaca, melainkan harus aktif membuat ringkasan, gambar maupun membuat adegan dengan benda-benda konkrit atau sambil berpraktek.
Belajar bukan hanya aktifitas mendengar dan melihat tetapi juga aktifitas berbuat. Dengan berbuat maka akan lebih sempurna dalam menguasai apa yang dipelajari
  1. Piaget (konkret – abstrak)
Menurut piaget proses belajar terdiri 3 tahapan : asimilasi, akomodasi dan ekuilibrasi. Asimilasi adalah proses penyatuan informasi baru kedalam struktur kognitif yang sudah ada dalam benak mahasiswa. Proses akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif kedalam situasi yang baru sedangkan proses ekuilibrasi adalah penyesuaian kesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Menurut piaget proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa. Piaget membagi tahap perkembangan kognitif antara lain tahap sensori-motori(1.5-2tahun), tahap praoperasional(3-7 tahun), tahap operasional konret (8-13tahun) dan tahap operasional formal(14 tahun atau lebih)setiap tahap perkembangan berbeda pencapaian kognitifnya senmakin tingi tingakat kognitif nya semakin teratur dan semakin abstrak pula cara berpikirnya.Untuk itu diperlukan keterlibatan guru/ dosen untuk memahami hal tersebut dalam memberikan materi pelajaran baik dalam jumlah maupun jenisnya serta membantu mengkongkretkan gambaran-gambaran abstrk yang tertanam dibenak siswa/mahasiswa.
  1. Brunner (Discovery Learning)
            Menurutnya proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif  bila dosen atau guru membrikan kesempatan pada mahasiswa / siswa untuk menemukan aturan seperti konsep, teori, definisi dsb melalui contoh-contohmaksudnya mahasiswa dibimbing secara induktif untuk memahami kebenaran secara umum. Misalkan dosen meminta seorang mahasiswa mempelajari pernapasan  tidak hanya mengemukakan definisinya saja namun disertakan dengan contoh-contoh maka diperlukan pengalaman langsung mahasiswa tentang bagaimana pernapasan secara konkret.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam prinsip keterlibatan langsung antara lain :
1.         Pembelajaran individual dan kelompok.
Pembelajaran individu dilakukan dilakukan sendiri tanpaa ada interaksi dengan orang lain sehingga tidak ada sharing pendapat dan semua proses mulai dari ide, pencarian informasi, analisa masalah serta pemecahan masalahnya. Sedangkan pembelajaran kooperatif telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai penelitian, tujuannya untuk meningkatkan kerjasama akademik antar mahasiswa, membentuk hubungan positif, mengembangkan rasa percaya diri, serta meningkatkan kemampuan akademik melalui aktivitas kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat saling ketergantungan positif di antara mahasiswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap mahasiswa mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Aktivitas belajar berpusat pada mahasiswa dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas bersama, saling membantu dan saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui interaksi belajar yang efektif mahasiswa lebih termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan strategi berpikir tingkat tinggi, serta mampu membangun hubungan interpersonal. Model pembelajaran kooperatif memungkinkan semua mahasiswa dapat menguasai materi pada tingkat penguasaan yang relatif sama atau sejajar.
2.         Eksperimen.
Suatu upaya atau praktek dengan menggunakan peragaan yang ditujukan pada siswa dengan tujuan agar siswa lebih mudah memahami dan mempraktekkan apa yang telah diperoleh dan dapat belajar memahami proses serta menganalisa proses tersebut.
3.         Media.
                    Media memiliki multi makna, baik dilihat secara terbatas maupun secara luas. Munculnya berbagai macam definisi disebabkan adanya perbedaan dalam sudut pandang, maksud, dan tujuannya. NEA (National Education Association) memaknai media sebagai segala benda yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca, atau dibincangkan beserta instrumen yang digunakan untuk kegiatan tersebut. Raharjo (1991) menyimpulkan beberapa pandangan tentang media, yaitu Gagne yang menempatkan media sebagai komponen sumber, mendefinisikan media sebagai “komponen sumber belajar di lingkungan peserta didik yang dapat merangsangnya untuk belajar.” Briggs berpendapat bahwa media harus didukung sesuatu untuk mengkomunikasikan materi (pesan kurikuler) supaya terjadi proses belajar, yang mendefinisikan media sebagai wahana fisik yang mengandung materi instruksional. Wilbur Schramm mencermati pemanfaatan media sebagai suatu teknik untuk menyampaikan pesan, di mana ia mendefinisikan media sebagai teknologi pembawa informasi/pesan instruksional. Yusuf hadi Miarso memandang media secara luas/makro dalam sistem pendidikan sehingga mendefinisikan media adalah segala sesuatu yang dapat merangsang terjadinya proses belajar pada diri peserta didik
Rahardjo (1991) menyatakan bahwa media dalam arti yang terbatas, yaitu sebagai alat bantu pembelajaran. Hal ini berarti media sebagai alat bantu yang digunakan guru untuk:
1        memotivasi belajar peserta didik
2        memperjelas informasi/pesan pengajaran
3        memberi tekanan pada bagian-bagian yang penting
4        memberi variasi pengajaran
5        memperjelas struktur pengajaran.
Di sini media memiliki fungsi yang jelas yaitu memperjelas, memudahkan dan membuat menarik pesan kurikulum yang akan disampaikan oleh guru kepada peserta didik sehingga dapat memotivasi belajarnya dan mengefisienkan proses belajar.
Media dalam proses mengajar banyak hal yang dapat dijadikan dalam media belajar. Baik berupa pengalaman langsung dari narasumber maupun bahan bahan dari literature atau sumner sumner yang tekait contohnya buku, jurnal atau Koran. Sebagai mahasiswa keperawatan salah satu media yang digunakan adalah phantom sebagai pengganti pasien. Dengan adanya phantom tersebut mahasiswa diharapkan lebih mengerti anatomi dari manusia karena phantom dibuat sedemikian rupa sehngga menyerupai manusia. Phantom tersebut digunakan sebagai media praktek mahasiswa sebelum berhadapan langsung dengan pasien/manusia. Pada phantom inilah mahasiswa mempraktekkan ilmu yang mereka peroleh/melakukan prasat dari teori teori yang didapat.

4.         Psikomotorik.
Kompetensi dasar berikutnya yaitu kemampuan psikomotor yang meliputi: sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi, presentasi, dan perilaku.Kemampuan psikomotor merupakan kesinambungan dari kemampuan kognitif dan efektif. Pada ranah kemampuan psikomotor ini peserta didik diharapkan dapat mencapai kemampuan bersosialisasi antar sesama peserta didik, pendidik, dan pihak-pihak yang terkait dalam proses pembelajaran. Kemampuan bersosialisasi ini dengan serta merta didukung oleh kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi, presentasi dan perilaku yang baik.
5.         Mencari informasi sendiri.
Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka  butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan

6.         Merangkum.
Merangkum merupakan pembuatan  ringkasan dari apa yang telah kita baca dan telah kita praktkkan. Dalam rangkuman berisi intisari yang akan memuahkan kita untuk lebih mudah mempelajari / memahami tentang hal hal yang telah kita baca. Dalam pengalaman belajar dilaboratorium. Merangkum memiliki keuntungan mempermudah mengingat apa yang telah dikerjakan. Dalam praktikum dan mempermudah belajar. Tahap tahap atau langkah langkah dalam pelaksanaan skill lab tersebut.
7.         Guru sebagai manejer dan pengelola.
Mengajar dengan sukses berarti harus ada keterlibatan siswa secara aktif untuk belajar. Keduanya berjalan seiring, tidak ada yang mendahului antara mengajar dan belajar karena masing-masing memiliki peran yang memberikan pengaruh satu dengan yang lainnya. Keberhasilan/kesuksesan guru mengajar ditentukan oleh aktivitas siswa dalam belajar, demikian juga keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan pula oleh peran guru dalam mengajar. Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar-mengajar

MENGENAL DISTOSIA PADA KEHAMILAN


1.1 PENGERTIAN
Distosia adalah keterlambatan atau kesulitan persalinan dapat disebabkan oleh kelainan tenaga, kelainan letak, bentuk janin serta jalan lahir.

Jenis-jenis distosia :
Distosia Karena kelainan HIS (tenaga)
Distosia karena kelainan HIS adalah HIS yang tidak normal baik kekuatan maupun sifatnya sehingga memperlambat kelancaran persalinan.

ETIOLOGI
ü   Kelainan HIS sering dijumpai pada primi gravid tua sedangkan inersia uteri sering dijumpai pada multi gravida dan grande multi gravida, tetania uteri, aksi uterus inkoordinasi.
ü  Factor herediter, emosi dan ketakutan.
ü  Salah pimpinan persalinan atau salah pemberian obat-obat seperti oksitoksin dan obat-obat penenang.
ü  Bagian terbawah janin tidak rapat dengan segmen bawah rahim, dijumpai pada kelainan ltak janin dan disproporsi epalo pelvic.
ü  Kelainan uterus misalnya bikornis unifolis.
ü  Kehamilan post matur.



JENIS-JENIS DISTOSIA AKIBAT KELAINAN HIS dan PENANGANAN

1.      Distosia karena inersia uteri
Inersia uteri adalah his yang sifatnya lemah, lebih singkat dan lebih jarang dari His normal. Inersia uteri dibagi atas 2 keadaan :
Ø  Inersia uteri primer
Kelemahan His timbul sejak permulaan persalinan hal ini ibedakan dengan His pendahuluan yang juga lemah dan kadang-kadang menjadi hilang.
Ø  Inersia uteri sekunder
Kelemahan His yang timbul setelah adanya His yang kuat, teratur dan dalam waktu yang lama.
Etiologi
ü  Multipara
ü  kelainan letak janin
ü  disproporsi cepalo pelvic
ü  kehamilan ganda
ü  hidrmnion
ü  uterus bikornis unikolis.
Penanganan :
·         Periksa  keadaan serviks, presentasi dan keadan janin, turunnya bagian terbawah janin dan keadaan panggul. Kemudian buat rencana untuk menentukan sikap dan tindakan yang akan dikerjakan .
·         Berikan oksitosin 5-10 unit dalam 500 cc D5 dimulai dengan 12 tetes/menit, dinaikkan setiap 10-15 menit sampai 40-50 tetes/menit. Maksud dari pemberian adalah, supaya serviks dapat membuka.
·         Pemberian oksitosin tidak usah terus menerus  bila tidak memperkuat His setelah pemberian beberapa lama hentikan dulu dan ibu dianjurkan beristiharat. Pada malam hari berikan obat penenang misalnya valium 10 mg dan besoknya dapat diulang lagi pemberian oksitosin.
·         Bila inersia disertai dengan disproporsi cepalo pelvic maka sebaiknya dilakukan section Caesar.
·         Bila semula His kuat kemudian terjadi inersia buteri sekunder, ibu lemah dan partus telah berlangsung lebih dari 24 jam pada primi dan 18 jam pada multi gravid tidak ada gunanya memberikan oksitosin drip, sebaiknya  partus segera diselesaikan sesuai dengan hasil pemeriksaan dan indikasi obstetric lainnya (ekstraksi vakum, atau forsep atau sc).
2.      Distosia karena Tetania uteri
Tetania uteri adalah His yang terlalu kuat dan terlalu  sering sehingga tidak ada relaksasi rahim.

Penanganan :
·         Berikan obat seperti morfin, luminal dan sebagainya, asal janin tidak akan lahir dalam waktu dekat (4-6 jam)
·         Bila ada tanda-tanda obstruksi, persalinan harus segera diselesaikan dengan sc
·         Pada partus preisipitatus tidak banyak yang dilakukan karena janin lahir tiba-tiba dan cepat
3.      Distosia karena Partus lama atau terlantar
4.      Distosia karena aksi uterus  inkoordinasi
Sifat yang berubah-ubah, tidak ada koordinasi dan sinkronisasi antara kontraksi. Jadi kontraksi tidak efisien dalam mengadakan pembukaan dan pengeluaran janin. Pada bagian atas dapat terjadi kontraksi tapi bagian tengah tidak, sehingga menyebabkan terjadinya lingkaran kekejangan sehimgga janin tidak dapat maju.
Etiologi
ü  Pemberian oksitosin yang berlebihan atau ketuban pecah lama yang disertai infeksi
Komplikasi
Hipoksia janin karena gangguan sirkulasi uteroplasentar
Penanganan:
·         Untuk mengurangi rasa takut, cemas dan tonus otot berikan obat-obat anti sakit dan penenang (sedative dan analgetika) seperti morfin, petidin dan valium
·         Bila persalinan yang berlangsung lama dan berlanjut-lanjut selesaikan partus menggunakan hasil pemeriksaan dan evaluasi dengan ekstraksi vakum, forsep atau sc.  

JENIS-JENIS DISTOSIA KARENA KELAINAN LETAK JANIN DAN PENANGANANNYA
1.      Kelainan pada letak kepala
·         Presentasi puncak kepala
Bagian terbawah adalah puncak kepala pada pemeriksaan dalam teraba uub yang paling rendah dan uub sudah berputar ke depan.
Etiologi
§  Kelainan panggul (panggul picak )
§  Kepala bentuknya bundar
§  Anak kecil atau mati
§  Kerusakan dasar panggul

·         Presentasi muka
Letak kepala tengadah defleksi sehingga bagian kepela yang yang terletak paling rendah adalah muka.
Etiologi
ü  Primer : ancepalus, hidrocepalus, congenital anomaly, congenital shortening of the servical muscle, struma, kista leher, lilitan tali pada leher beberapa kali
ü  Sekunder : panggul sempit, tanggal menunggung di samping kepala, makrosomia, plasenta previa, grande multi para, pergerakan anak bebas misal pada hidramnion dan perut gantung, posisi uterus miring.
Penanganan
§  Bila ada indikasi untuk menyelesaikan partus segera, pada anak hiduplakukan ekstraksi vkum atau forcep pada pembukaan lengkap, pada anak mati lakukan embriotomi dan pada mento posterior, pembukaan kecil dan primi gravid lakukan sc
§  pada penempatan dahi, anjurkan ibu tidur miring kesamping sebelah dagu
§  usaha untuk merubah letak: repossi mento anterior menjadi posterior, cara SCHATZ, cara ZANGEMEISTER-THORN
§  lakukan observasi secara teliti, biasanya 80-90 dapat lahir normal
·         Presentasi dahi
Kedudukan kepala dianytara fleksi maksimal dan defleksi maksimal shingga dahi merupakan bagian terendah. Pada umumnya presrentasi dahi merupakan kedudukan sementara, dan sebagian besar akan berubah menjadi presentasi muka dan belakang kepala.
Etiologi
ü  Anak kecil atau sudah meninggal
ü  Pemenpatan bayi persisten
ü  Panggul sempit
ü  Janin besar
Penanganan :
§  Pada janin kecil dan panggul luas penanganan sama seperti pada presentasi muka
§  Pada presentasi dahi dengan ukuran panggul dan janin yang normal tidak dapat dilakukan persalinan pevaginam spontan sehingga harus dilakukan sc.
§  Bila persalinan maju atau ada harapan presentasi dahi dapat berubah menjadi presentsasi belakang kepala atau muka tidak perlu dilakukan tindakan.
§  Bila pada akhir kala I kepala belum masuk rongga panggul, presentasi dapat diubah dengan prasat THORN, bila tidak berhasil dapat dilakukan sc.
§  Bila kala II tidak mengalami kemajuan, meskipun kepala sudah masuk rongga panggul lakikan sc.
·         Posisi okciput posterior persisten
UUK tidak berputarke epan, tetapi tetap berada di belakang
Etiologi
ü  Panggul anthropoid, endroid dan kesempitan midpelvis
ü  Letak punggung janin dorsoposterior
ü  Putar paksi tidak berlangsung pada: perut gantung, janin kecil atau mati, arkus pubis sangat luas, dolichocephali, panggul sempit.
Penanganan
§  Sabar menunggu, karena ada harapan UUK akan memutar ke depan dan janin akan lahir spontan.
§  Ibu berbaring miring kea rah punggung janin
§  Bila ada indikasi dan syarat telah terpenuhi, dilakukan ekstraksi forsepdengan 2 cara: menurut SCANZONI atau menarik saja dengan UUK di belakang.
·         Letak belakang kepala untuk melintang
UUK masih di samping walaupun kepala sudah di dasar panggul karena keterlambatan putar paksi.
Etiologi
ü  Kelemahan his pada kala II
ü  Panggul picak
ü  Janin kecil atau mati
ü  Kepala janin bundar
Penanganan
§  Observasi dan tunggu, karena jika His kuat terjadi putaran UUK ke depan dan janin lahir spontan
§  Ibu diminta berbaring kea rah punggung jani
§  Dapat dicoba memutar UUK ke depan dengan koreksi manual, caranya ibu jari diletakkan pada UUK, jari-jari lainnya pada okciput lalu dicoba reposisi sehingga UUK berada di bawah simpisis
§  Beri utero tonika bila His lemah, jika indikasi dan syarat terpenuhi lakukan ekstraksi forsep menurut LANGE

·         Letak tulang uu
Terdiri dari : positio occiput pubica (anterior) dan positio occiput sacralis (posterior).
Etiologi
ü  Anciklitismus permanen biasa pada panggul picak
Penanganan :
§  Observasi persalinan dengan teliti karena masih dapat lahir spontan
§  Coba manual orrection
§  Syarat ok lakukan versi dan akstraksi, bila anak mati lakukan embriotomi,
§  Sc jika ada indikasi
§  Yang berbahaya adalah letak tulang ubun-ubun belakng karena ada ancaman rupture uteri bagian belakangrahim yang pada pemeriksaan tidak kita ketahui.
2.      Letak sungsang
Janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokkong di bagian bawah kavum uteri
Etiologi
ü  Janin mudah bergerak seperti pada Multiparitas, hidramnion, janin kecil (premature)
ü  prematuritas,
ü  kehamilan ganda,
ü  fiksasi kepala pada PAP tidak baik atau tidak ada missal pada panggul sempit, hidrocepalus, anensefalus, plasenta previa, tumor-tumor pada pelvis
ü  kelainan bentuk uterus (uteri arkuatus, bikornis, mioma uteri),
ü  implantasi plasenta di kornu fundus uteri.
ü  Janin sudah lama mati
Penanganan
§  Syarat ok Lakukan versi luar pada kehamilan 34-38 minggu
§  Jika masih letak sungsang lahirkan janin dengan prasat BRACHT (bokong ditangkap, tangan diletakkan pada paha dan sacrum, kemudian janin ditarik keatas. Biasanya dilakukan pada janin kecil dan multipara
§  Lakukan manual aid atau dibantu cunam jika ahu dan kepala tidak dapat dilahirkan dengan prasat BRACHT

3.      Letak lintang
Adalah letak memanjang janin menyilang dari sumbu memanjang ibu secara tegak lurus (90°). Bila sudut yang dibentuk kedua sumbu ini maka disebut obliquelie, biasanya sermentara karena kemudian akan berubah posisi longitudinal pada persalinan.
Etiologi
ü  Relaksasi berlebih dinding abdomenakibat multiparitas, uterus abnormal ( uterus arkuatus atau subseptus)
ü  Panggul sempit
ü  Pendulum dari dinding abdomen
ü  Plasenta previa
ü  Tumor daerah panggul
ü  Insersi plasenta di fundus
ü  Bayi premature
ü  Kehamilan ganda
ü  Hidramnion
Penanganan
§  Sewaktu hamil usahakan jadi letak membujur (bokong atau kepala), pada primi lakukan versi luar pada usia kehamilan 34 minggu sedangkan multi pada usia 36 minggu.
§  Sewaktu partus lahirkan secara pervaginam dengan versi dan ekstraksi atau embriotomi bila janin sudah meninggal. Bisa juga perabdominam : sc
§  Lakukan versi luar asal pemukaan belum 4 cm dan ketuban belum pecah. Pada primi gravida bila versi luar rtidak berhasil segera lakukan sc.
§  Pada multi gravida, riwayat obstetric baik, panggul sempit (-), makrosomia (-), tunggu dan awasi sampai pembukaan serviks lengkap, lalu lakukan versi ekstraksi.
§  Pada letak lintang kasep bila janin masih hidup segera sc, jika sudah ma lahirkan pervaginam secara dekapitasi.

4.      Presentasi rangkap
Keadaan dimana bagian kecil janin menumbung di samping bagian besar janin dan bersama-sama memasuki panggul misalnya tangan disamping kepala, kaki disamping kepala atau tangan disamping bokong.
Etiologi
ü  Panggul sempit
ü  Janin yang kecil atau mati
ü  Multipara
ü  Gemeli

Penanganan
§  Tunggu dan observasi
§  Reposisi jika perlu
§  Ibu dalam posisi trendelenburg dan disusruh tidur miring kearah yang berlawanan
§  Jika Panggul sempit dan tali pusat menumbung lakukan sc
JENIS-JENIS DISTOSIA KARENA KELAINAN JANIN ,BESAR JANIN DAN PENANGANANNYA
1.   Klasifikasi kelainan bentuk dan besar janin
Ø  Distosia kepala : hidrosefalus, kepala besar dan higroma koli atau tumor di leher.
Ø  Distosia bahu : bahu janin lebar seperti anak kingkong.
Ø  Distosia perut : hidropos fetalis, asites, akardiakus
Ø  Distosia bokong : meningokel, spinal bifida, dan tumor pada bokong janin.
Ø  Kembar siam/ double monster
Etiologi :
ü  Kehamilan posterem
ü  Habitus indolen
ü  Orang tua yang besar
ü  Eritroblastosis
ü  Hipertiroidisme
ü  Diabetes mellitus
Penanganan :
§  SC dilakukan pada disproporsi sefalo dan feto velfis
§  Episiotomi dilakukan pada kesukaran melahirkan bahu dan janin hidup, kledotomi unilateral dan bilateral dilakukan untuk memperkecil bahu.
§  Embriotomi dilakukan apabila janin meninggal


2.         Pertumbuhan janin yang berlebihan
Berat neonatus pada umumnya kurang dari 4000 gram dan jarang melebihi 5000 gram. Yang dinamakan bayi besar ialah bila berat badannya lebih dari 4000 gram Frekuensi berat badan lahir lebih dari 4000 gram adalah 5,3% dan yang lebih dari 4500 gram adalah 0,4%. Pada panggul normal, janin dengan berat badan 4000 - 5000 gram pada umumnya tidak mengalami kesulitan dalam melahirkannya. Pada janin besar, faktor keturunan memegang peranan penting.

Etiologi
ü  diabetes mellitus
ü  postmaturitas
ü  grande multipara
Penanganan
§  Pada disproporsi sevalopelvik karena janin besar, seksio sesarea perlu dipertimbangkan
§  Pada persalinan  pervaginam: Kesulitan melahirkan bahu tidak selalu dapat diduga sebelumnya. Apabila kepala sudah lahir sedangkan bahu sulit dilahirkan, hendaknya dilakukan episiotomi niediolateral yang cukup luas, hidung serta mulut janin dibersihkan
§  kemudian kepala ditarik curam ke bawah secara hati-hati dengan kekuatan yang terukur
§  Bila tidak berhasil, tubuh janin diputar dalam rongga panggul, sehingga bahu belakang menjadi bahu depan dan lahir di bawah simfisis. Bila dengan cara ini pun belum berhasil, penolong memasukkan tangannya ke dalam vagina dan berusaha melahirkan lengan belakang janin dengan menggerakkan di muka dadanya
§  Untuk melahirkan lengan kiri digunakan tangan kanan penolong, dan sebaliknya
§  Kemudian bahu depan diputar ke diameter miring dari panggul guna melahirkan lengan depan.
§  Pada keadaan dimana janin telah mati sebelum bahu dilahirkan, dapat dilakukan kleidotomi pada satu atau kedua klavikula untuk mengurangi kemungkinan perlukaan jalan lahir.
3.         Hidrosefalus
Hidrosefalus ialah keadaan di mana terjadi penimbunan cairan serebrospinalis dalam ventrikel otak, sehingga kepala menjadi besar serta terjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-ubun. Cairan yang tertimbun dalam ventrikel biasanya antara 500 sampai 1500 ml, akan tetapi kadang-kadang dapat mencapai 5 liter. Hidrosefalus seringkaii disertai kelainan bawaan lain seperti misalnya spina bifida. Karena kepala janin terlalu besar dan tidak dapat berakomodasi di bagian bawah uterus, maka sering ditemukan dalam letak sungsang. Bagaimana pun letaknya, hidrosefalus akan menyebabkan disproporsi sefalopelvik dengan segala akibatnya

Diagnosis hidrosefaus pada letak sungsang lebih sulit dan sering baru dibuat setelah dialami kesulitan dalam kelahiran kepala, di mana teraba kepala yang besar menonjol di atas simfisis. Pemeriksaan rontgenologik pada hidrosefalus dengan janin dalam letak sungsang tidak dapat memberi kepastian, karena kepala normal pada letak sungsang dapat memberi gambaran seolah-olah sangat besar. Untuk menghindarkan kesalahan pada pemeriksaan rontgenologik harus diperhatikan beberapa hal:
1)      muka janin sangat kecil bila dibandingkan dengan tengkorak;
2)      kepala berbentuk bulat, berbeda dengan kepala biasa yang berbentuk ovoid;
3)      bayangan tulang kepala sangat tipis. Untuk menghilangkan keragu-raguan dapat pula dibantu dengan pemeriksaan secara ultrasonik atau M.R.I. Kemungkinan hidrosefalus harus dipikirkan apabila:
1)      Kepala tidak masuk ke dalam panggul, pada persalinan dengan panggul normal dan his kuat;
2)      Kepala janin teraba sebagai benda besar di atas simfisis.

Penanganan
§  Persalinan pada wanita dengan janin hidrosefalus perlu dilakukan pengawasan yang seksama, karena bahaya terjadinya ruptura uteri selalu mengancam.
§  Pada hidrosefa yang nyata, kepala janin harus dikecilkan pada permulaan persalinan.
§  Pada pembukaan 3 cm cairan cerebrospinalis dikeluarkan dengan pungsi pada kepala menggunakan jarum spinal; setelah kepala mengecil, bahaya regangan segmen bawah uterus hilang, sehingga tidak terjadi kesulitan penurunan kepala ke dalam rongga panggul.
§  Bila janin dalam letak sungsang, pengeluaran cairan dari kepala yang tidak dapat lahir dilakukan dengan pungsi atau perforasi melalui foramen oksipitalis magnum atau sutura temporalis.
§  Dianjurkan pula untuk mencoba melakukan ventrikulosentesis transabdominal dengan jarum spinal; dalam hal ini kandung kencing harus dikosongkan lebih dahulu.



4.         Tali pusat menumbung
keadaan dimana tali pusat teraba keluar dan ketuban sudah pecah.
Etiologi
ü  Letak sungsang
ü  Letak lintang
ü  Panggul sempit
ü  Hidrosefalus dan anensevalus
ü  Hidramnion
ü  Plasenta frevia
ü  Plasenta letak rendah
Penanganan
v  Letak kepala
§  SC bila pembukaan masih kecil
§  Pada pembukaan sudah lengkap ekstrasi pakum atau forsep bila kepala dengan ukuran terbesar sudah melewati PAP, SC atau versi dan ekstraksi bila kepala goyang.
v  Letak lintang
§  Lakukan SC
v  Letak sungsang
§  Tunggu pembukaan lengkap. Ekstraksi kaki

JENIS-JENIS DISTOSIA KARENA KELAINAN JALAN LAHIR
1.      Kelainan pada vulva
ü  Edema vulva dijumpai pada eklamsi dan gangguan gizi atau persalinan yang lama.
ü  Stenosis vulva akibat perlukaan atau infeksi dengan parut yang kaku dapat mengecilkan vulva.
ü  Tumor vulva berupa bartholini atau kista.
2.      Kelainan pada vagina
ü  Stenosis vagina congenital
ü  Tumor vagina berupa kista gardner
3.      Kelainan pada servik uteri
4.      Kelainan pada ovarium

JENIS-JENIS DISTOSIA KARENA KELAINAN  BENTUK PANGGUL DAN PENANGANANNYA
Jenis kelainan panggul
Caldwell dan Moloy è 4 jenis pokok yaitu :
1.               Panggul ginekoid dengan pintu atas panggul yang bundar, atau dengan diameter transversa yang lebih panjang sedikit daripada diameter anteroposterior dan dengan panggul tengah serta pintu bawah panggul yang cukup luas;
2.               Panggul antropoid dengan diameter anteroposterior yang lebih panjang daripada diameter transversa, dan dengan arkus pubis menyempit sedikit;
3.               Panggul android dengan pintu atas panggul yang berbentuk sebagai segitiga berhubungan dengan penyempitan ke depan, dengan spina iskiadika menonjol ke dalam dan dengan arkus pubis menyempit;
4.               Panggul platipelloid dengan diameter anteroposterior yang jelas lebih pendek daripada diameter transversa pada pintu atas panggul dan dengan arkus pubis yang luas.

Menurut klasifikasi yang dianjurkan oleh Munro Kerr yang diubah sedikit, panggul-panggul yang terakhir ini dapat digolongkan sebagai berikut.
1.               Perubahan bentuk karena kelainan pertumbuhan intrauterin: a) panggul Naegele; b) panggul Robert; c) split pelvis; d) panggul asimilasi.
2.               Perubahan bentuk karena penyakit pada tulang-tulang panggul dan/ atau sendi panggul.. a) rakitis; b) osteomalasia; c) neoplasma; d) fraktur; e) atrofi, karies, nekrosis; f) penyakit pada sendi sakroiliaka dan sendi sakrokoksigea.
3.               Perubahan bentuk karena penyakit tulang belakang: a) kifosis; b)skoliosis; c) spondilolistesis.
4.               Perubahan bentuk karena penyakit kaki a) koksitis; b) luksasio koksa; c) atrofi atau kelumpuhan satu kaki.

1.         Kesempitan pada pintu atas panggul

Pintu atas panggul dianggap sempit apabila konjugata vera kurang dari 10 cm, atau diameter transversa kurang dari 12 cm. Kesempitan pada konjugata vera (panggul picak) umumnya lebih menguntungkan daripada kesempitan pada semua ukuran (panggul sempit seluruhnya). Oleh karena pada panggul sempit kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh pintu atas panggul, maka dalam hal ini serviks uteri kurang mengalami tekanan kepala. Hal ini dapat mengakibatkan inersia uteri serta lambannya pendataran dan pembukaan serviks. Apabila pada panggul sempit pintu atas panggul tidak tertutup dengan sempurna oleh kepala janin, ketuban bisa pecah pada pembukaan kecil dan ada bahaya pula terjadinya prolapsus funikuli. Pada panggul picak turunnya belakang kepala bisa tertahan dengan akibat terjadinya defleksi kepala, sedang pada panggul sempit seluruhnya ditemukan rintangan pada semua ukuran; kepala memasuki rongga panggul dengan hiperfleksi. Selanjutnya moulage kepala janin dapat dipengaruhi oleh jenis asinklitismus; dalam hal ini asinklitismus anterior lebih menguntungkan daripada asinklitismus posterior oleh karena pada mekanisme yang terakhir gerakan os parietale posterior yang terletak paling bawah tertahan oleh simfisis, sedang pada asinklitismus anterior os parietale anterior dapat bergerak lebih leluasa ke belakang.

2.      Kesempitan panggul tengah
Dengan sakrum melengkung sempurna, dinding-dinding panggul tidak berkonver foramen iskiadikum mayor cukup luas, dan spina isikiadika tidak menonjol ke dalam, dapat diharapkan bahwa panggul tengah tidak akan menyebabkan rintangan bagi lewatnya kepala janin. Ukuran terpenting, yang hanya dapat ditetapkan secara pasti dengan pelvimetri roentgenologik, ialah distansia interpinarum. Apabila ukuran ini kurang dari 9,5 cm, perlu kita waspada terhadap kemungkinan kesukaran pada persalinan, apalagi bila diameter sagittalis posterior pendek pula. Pada panggul tengah yang sempit, lebih sering ditemukan posisi oksipitalis posterior persisten atau presentasi kepala dalam posisi lintang tetap (transverse arrest). 

3.      Kesempitan pintu bawah pangggul
Pintu bawah panggul tidak merupakan bidang yang datar, tetapi terdiri atas segi tiga depan dan segi tiga belakang yang mempunyai dasar yang sama, yakni distansia tuberum. Apabila ukuran yang terakhir ini lebih kecil daripada biasa, maka sudut arkus pubis mengecil pula (kurang daripada 80O) Agar supaya dalam hal ini kepala janin dapat lahir diperlukan ruangan yang lebih besar pada bagian belakang pintu bawah panggul. Dengan diameter sagitalis posterior yang cukup panjang persalinan per vaginam dapat dilaksanakan, walaupun dengan perlukaan luas pada perineum Dengan distansia tuberum bersama dengan diameter sagittalis posterior kurang dari 15 em, timbul kemacetan pada kelahiran janin ukuran biasa.  



Bahaya pada ibu

a.       Partus lama yang seringkali disertai pecahnya ketuban pada pembukaan kecil, dapat menimbulkan dehidrasi serta asidosis, dan infeksi intrapartum.
b.      Dengan his yang kuat, sedang kemajuan janin dalam jalan lahir tertahan, dapat timbul regangan segmen bawah uterus dan pembentukan lingkaran retraksi patologik (Bandl). Keadaan ini terkenal dengan nama ruptura uteri mengancam; apalagi tidak segera diambil tindakan untuk mengurangi regangan, akan timbul ruptura uteri. c. Dengan persalinan tidak maju karena disproporsi sefalopelvik, jalan lahir pada suatu tempers mengalami tekanan yang lama antara kepala janin dan tulang panggul. Hal itu menimbulkan gangguan sirkulasi dengan akibat terjadinya iskemia dan kemudian nekrosis pada tempat tersebut. Beberapa hari post partum akan terjadi fistula vesikoservikalis, atau fistula vesikovaginalis, atau fistula rektovaginalis.

Bahaya pada janin

a.            Partus lama dapat meningkatkan kematian perinatal, apalagi jika ditambah dengan infeksi intrapartum.
b.            Prolapsus funikuli, apabila terjadi, mengandung bahaya yang sangat besar bagi janin dan memerlukan kelahirannya dengan segera apabila ia masih hidup.
c.            Dengan adanya disproporsi sefalopelvik kepala janin dapat melewati rintangan pada panggul dengan mengadakan moulage. Moulage dapat dialami oleh kepala janin tanpa akibat yang jelek sampai batas-batas tertentu, akan tetapi apabila hal tersebut dilampaui, terjadi sobekan pada tentorium serebelli dan intrakranial.
d.            Selanjutnya tekanan oleh promontorium atau kadang-kadang oleh simfisis pada panggul picak menyebabkan perlukaan pada jaringan di atas tulang kepala janin, malala dapat pula menimbulkan fraktur pada os parietalis.

 

Penanganan
Dewasa ini 2 tindakan dalam penanganan disproporsi sefalopelvik yang dahulu banyak dilakukan tidak diselenggarakan lagi. Cunam tinggi dengan menggunakan axis-traction forceps dahulu dilakukan untuk membawa kepala janin - yang dengan ukuran besarnya belum melewati pintu atas panggul - ke dalam rongga panggul dan terus keluar. Tindakan ini yang sangat berbahaya bagi janin dan ibu, kini diganti oleh seksio sesarea yang jauh lebih aman. Induksi partus prematurus umumnya juga tidak dilakukan lagi. Keberatan tindakan ini ialah kesulitan untuk menetapkan: a) apakah janin walaupun belum cukup bulan, sudah cukup tua dan besar untuk hidup dengan selamat di luar tubuh ibu; dan b) apakah kepala janin dapat dengan aman melewati kesempitan pada panggul bersangkutan.
Dewasa ini 2 cara merupakan tindakan utama untuk menangani persalinan pada disproporsi sefalopelvik, yakni seksio sesarea dan partus percobaan. Di samping itu kadang-kadang ada indikasi untuk melakukan simfisiotomia dan kraniotomia, akan tetapi simfisiotomia jarang sekali dilakukan di Indonesia, sedangkan kraniotomia hanya dikerjakan pada janin mati.